CERPEN

 

 Mentari mengintip dengan malu-malu di balik tirai jendela sebuah rumah sederhana. Disertai kokok ayam jantan yang bersahutan. Pagi kembali datang membawa kesejukan khas pegunungan. Tetes embun masih nyaring terdengar disela-sela dedaunan, ketika kabut mulai menghilang.

Aku terbangun dari mimpi indahku. Bergegas menyambut pagi yang cerah seraya bersenandung menuju kamar mandi. Tercium bau masakan ibu menyeruak dihidungku. Di dapur mungil kami terlihat ibu sedang menyiapkan sarapan. Sambil geleng-gelang ibu melihat tingkahku pagi ini. aku hanya membalasnya dengan senyuman manisku.

Selesai sarapan dan berpamitan dengan ibu, aku berlari menuju teras rumah. Sudah ada sahabatku, Dimas Mahardika yang setia menungguku diteras rumahku yang penuh dengar tanaman bunga mawar putih kesukaanku.
“Selamat pagi nona, pengawal sudah siap mengantar kemanapun tuan putri mau.” Ujarnya dengan senyum manis. Diikuti tawaku yang meledak karena tingkahnya bak seorang pengawal istana mengawal ratunya. Ini yang aku suka darinya, sifat humornya yang tinggi. Dia yang selalu bisa membuatku tertawa.

Dengan sepeda motornya, kami pergi menuntut ilmu. Melewati deretan sawah yang mulai menguning, menuju sekolah baruku. Bangunan yang megah walaupun berada dipinggiran kota dan masih terlihat asri.
“Kita sudah sampai nona, silahkan turun.” Katanya lagi-lagi dengan senyum manisnya. Kali ini aku hanya membalasnya dengan senyuman. Sadarkah kau Dimas, ada seorang gadis yang sangat menyayangimu? Mengharapkanmu jadi kekasihmu? Tapi sayang kata-kata itu hanya mampu terucap dalam hatiku.
“Nita, kau harus sadar kalau semua itu tak mungkin terjadi.” Jeritku dalam hati. Aku dan Dimas adalah sahabat, kami sudah berteman sejak kecil. Bahkan sejak kami masih dalam kandungan, karena orangtua kami yang sudah saling mengenal sejak lama. Aku tak ingin menghancurkan persahabatan kami dengan cinta, dengan hubungan lawan jenis.
Memang sudah lama aku mencintainya dan mengharapkan kami bersama dalam sebuah cinta. Tapi terlalu lama aku menunggu, hingga aku terlalu lelah menanti cinta itu. Harus sampai kapan? Tanyaku dalam hati. Karena kulihat Dimas tak pernah menunjukkan rasa yang lebih dari seorang sahabat. Haruskah aku mulai dahulu?

Hari ini satu sekolah heboh membicarakan ketua OSIS yang baru. Bintang basket yang telah mengharumkan nama sekolah. Aku yang tak pernah mengikuti kegiatan sekolah tak peduli dengan kehebohan itu. Aku dan Dimas memilih duduk disalah satu bangku kantin yang mulai sepi.
“Namanya Ivan Saputra, ketua OSIS baru.” Kata Dimas memulai pembicaraan.
“Hanya modal ganteng untuk mendapat suara terbanyak?” tanyaku sinis.
“Buka mata kamu Nit, dia memang lumayan ganteng. Tapi dia bintang basket, juga pernah ikut olimpiade mewakili sekolah. Jangan menjudge orang sebelum kau mengenalnya.” Kata Dimas menasehatiku. Ini yang Dimas tak suka dariku, aku suka melihat buku hanya dari sampulnya.
Tapi sepertinya lebih gantengan kamu, Dim. Lebih pandai kamu, kamu kan bintang sekolah. Kamu lebih segalanya dari dia deh, apalagi kamu itu lebih menarik bagiku. Kataku sambil memandangi senyum manisnya.
“Sudahlah kamu pasti tidak tertarik. Aku ke ruang konseling dulu ya, di tunggu Pak Rama.” Mataku tak berpaling memandangnya yang mulai menjauh.
“Hai, boleh aku duduk disini?” seseorang menyadarkanku dari lamunan tentang Dimas. Ku balas dengan senyuman.
“Aku Ivan, sepertinya aku baru pertama melihat kamu di sekolah ini.” Katanya memperkenalkan diri.
“Nita, aku murid baru.” Ucapku sambil menjawab tangannya.
Ivan Saputra? Ketua OSIS dan bintang basket itu? Hemm… lumayan ganteng juga. Benar kata Dimas, dari penampilannya aku bisa menilai dia tak hanya modal ganteng. Maaf sudah menilaimu hanya dari luarnya saja. Dan ternyata dia tak seburuk cowok popular dalam pandanganku. Selain ganteng, smart dan popular, dia juga bertanggung jawab dengan tugasnya. Sepertinya aku mulai tertarik padanya.

Di bukit belakang sekolah, ditemani taburan bintang-bintang di langit malam. Aku dan Dimas berbaring memandangi bintang yang setia pada sang bulan. Langit malam ini sangat indah, sang bulan terlihat cantik dengan senyumnya yang menggoda setiap insan untuk memandangnya lebih lama.
“Nita, ada yang ingin kukatakan padamu. Bulan dan bintang akan menjadi saksinya. Dua bulan berlalu sangat cepat sejak perjumpaan kembali kita di bukit ini, setelah sekian lama kita berpisah. Sejak saat itu aku rasakan getaran itu muncul kembali. Setelah sekian lama terpendam, getaran yang berbeda ini muncul saat kita masih sangat dini untuk mengenalnya. Butuh keberanian besar untukku menyatakan ini.”
“Nita, aku menyayangimu. Maukah kamu jadi kekasihku?” pinta Dimas sambil berlutut dihadapanku mempersembahkan seikat bunga mawar putih kesukaanku. Aku membalikkan badan, mencoba menyembunyikan air mata yang mulai meleleh dipipiku.
“Terlalu lama aku menunggu kamu tanyakan itu padaku. Terlalu lelah aku menanti cintamu. Ini sudah terlambat Dim, maaf sudah ada orang lain yang menempati ruang kosong dihatiku.” Jawabku dengan air mata yang sudah mengalir deras dipipiku.
Seolah alam mengerti perasaanku sekarang. Langit pun ikut bersedih menyaksikan kisah ini. Dan di bawah tangisan langit aku meninggalkannya. Meninggalkan luka di tempat aku jatuh cinta dan di tempat terakhir aku melihatnya.

                                                Cerpen Karangan: Tyas HC
Blog: http://negeri-angin.blogspot.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s