makalah

ALIRAN LINGUISTIK

BAB V AFIKS,MORFOfONOLOGI,DAN SINTAKSI

 

Disusun oleh kelompok  5

  1. 1.      Indah novita sari             Nim : 12132008
  2. 2.      Mayang sari                     Nim :12132012

Dosen Pembimbing               :Hastari Mayrita,M.Pd

 

 

                        PROGAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA

                        FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

                          UNIVERSITAS BINA DARMA PALEMBANG

                                                2012/20013

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur kami panjatkan kehadrat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunian-ya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan makalah ini dengan tepat pada waktunya yang berjudul “AFIKSI ,MORFOLOGI,DAN SINTAKSIS”.

Makalah ini berisikan tentang AFIKSI,MORFOLOGI dan SIKTASI. Makalah ini akan membantu para pembaca untuk memahami dan mengetahui pentingnya Afiksi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.

Kami menyadari bahwa makalah yang kami buat ini belum sempurna,oleh karna itu krtik dan saran dari semua pihak selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

Demikianlah kami ucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam penyusunan makalah ini dari awal samapi akhir.

 

 

Palembang,29 Mei 2013.

                                                           

 

                                                                                                penyusun

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang Masalah

           

Secara sederhana,Afiksi dimaknai sebagai pembentuk kata yang berfungsi sebagai ujaran kata. Dan Afiksi juga terbagi menjadi beberapa banyak jenisnya dan juga Afiksi juga dapat dibagi berdasarkan. Posisina, kemampuan melekatnya,dan alasannya,dengan demikan,dengan demikian Afiksi itu dapat merubah kata atau kalimat yang berbentuk sebuah kalimat yang sering dipraktikan setiap seorang yang menggunakan bahasa untuk mengungkapkan sesuatu,yang disadari dan diterima oleh semua masyarakat sebagai hal yang baru oleh seorang yang menggunakannya untuk ditru oleh orang lain.

            Afiksi pada dasarnyamerupakan batasan kata yang berbentuk bebas yang paling sedikit atau dengan kata lain suatu bentuk bebas merupakan suatu kata.bebrapa contoh dari Afiksi antara lain,kata,batasan kata,bentuk kata,dan Afiksi juga berkaitan dengan bahasa asing yang mungkin selama ini kita susah untukmengucapkannya,tetapi Afiksi juga mempelajarinya walaupun tidak terlalu mendalam.

            Morfofonologi pada dasarnya dikemukakan tataran linguistik,sedangkan pengrtian morfologi sendiri yaitu tentang analisi sebuah bahasa yang sudah di teliti oleh para ahlinya.morfofonologi  dapat dibagi atas,morfofonologi pada tingkat kata,dan morfofonologi pada tingkat frase.

            Sintaksis pada dasarnya bagian atau cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana kaliamt,klausa, dan frase. Dan pendekatan yang dilakukan oleh sintaksis yaitu,struktrual,formalitas bahasa,fungsional.

1.2 Rumusan Masalah

 

  1. Apa saja yang terdapat dalam Afiksi?
  2. Apa pengertian tentang Morfonologi
  3. Pengertian tentang Sintaksis

I.3  Tujuan Penulisan

  1. Mengetahui tentang Afiksi
  2. Menegtahui tentang Morfologi
  3. Mengetahui tentang Sintaksi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1   Pengertian Afiksi

            Yang dimaksud dengan Afiksi ialah morfem yang harus dilekatkan pada morfem yang lain untuk membentuk kata yang berfungsi dalam ujaran. Telah dikatakan didepan bahwa afiksi dapat digolongkan sebagai morfem terikat.

Afiksi itu banyak jenisnya. Meskipun demikian,afiks dapat dibagi berdasrkan:

  • Posisinya
  • Kemampuan melekatnya
  • Asalnya

a)      Afiks dilihat dari segi posisi yaitu :

  • Perifiks
  • Infiks
  • Sufiks
  • Konfiks
  • Gabungan

Yang dimaksud dengan prefiks ialah afiks yang harus ddilekatkan didepan sebuah morfem dasar untuk membentuk kata yang berfungsi dalam ujaran. Misalnya [me-,ber-.per-,di] dan sebagainya. Yang dimaksud dengan infiks ialah afiksi  yang harus dilekatkan di tengah sebuah morfem dasar (kalau morfem dasar dimulai dengan konsonan) untuk membentuk kata yang berfungsi dalam ujaran. Misalnya [-el-.-em,-er-,]. Yang dimaksud dengan sufiks ialah afiks yng dilekatkan dibelakang morfem dasar untuk membentuk kata yang berfungsi dalam ujaran. Misalnya; [-kan,-i,-an]. Yang dimaksud dengan konfiks ialah afiks yang harus dilekatkan secara serempak pada sebuah morfem dasar, untuk membentuk kata yang berfungsi dalam ujaran. Misalnya [ke-…,-an] dalam kata kehujanan. Yang dimaksud dengan gabungan yakni afiks yang terdiri dari dua atau lebih afiks yang tidak perlu melekat serempak untuk membentuk kata yang berfungsi dalam ujaran. Misalnya gabungan [memper-] pada kata memperindah.

            Lain dari afiks yang disebutkan diatas ada lagi unsur terikat lain yang bukan saja dilihat dari segi posisinya,tetapi juga makna yang dimilikinya. Unsur tersebut dinamai klitika . maka yang dimaksud di sini yakni makna ‘’yang satu-satunya’’ yag dimiliki klitika tersebut lain dari pada itu, klitika tidak mengakibatkan proses morfonologi. Dalam bahasa Gorontalo, hal ini jelas seali.dalam Bahasa Gorontalo terdapat klitika yang karena posisinya dapat dibagi atas:

  • Proklitika, dan
  • Enlitika

Yang dimaksud dengan proklitika yakni klitika yang harus dilekatkan di depan morfem dasar,sedangkan yag dimaksud dengan enklitika ialah klitika yang diletakkan dibelakang mofrem dasar. Untuk mudanya penulisan akan memberikan contoh dalam bahasa Gorontalo. Dalam baha Gorontalo terdapat dua enklitika, yakni –lo dan –po,misalnya dalamkata:

            Deloalo                        ‘bawa saja’

            Deloopo                      ‘di bwa dulu’

(hendaknya anda bedakan dengan akhiran)

 

 

b)     Afiks dilihat dari kemampuan melekatnya

            Dilihat dari segi kemampuan melekatnya,afiksi dapat dibagi atas:

  • Afiks produktif
  • Afiks improduktif

Yang dimaksud dengan afiks produktif yakni afiks yang mempunyai kemampuan besar untuk dilekatkan pada macam-macam morfem lain,untuk membentuk kata yang berfungsi dalam ujaran. Misalnya;[me-,di-,-an].

c)      Afiks dilihat dari segi asalnya

            Dilihat dari segi asalnya,afiks dapat dibagi atas:

  • Afiks asli
  • Afiks asing

Yang dimaksud dengan afiks asli yang berasal dari bahasa penutur,misalnya,dalam Bahasa Indonesia,afiks [me-,ter-,-kan]. Yang dimaksud dengan afiks asing adalah  afiks yang belum mampu keluar dari lingkungan baha tempat afiks itu berasal. Misalnya,afiks –in,-at yang belum mampu keluar dari bahasa asal yakni bahasa Arab. Lain daripada itu terdapat pula afiks yang disebut afiks serapan. Afiks serapan adalah afiks yang berasal dari bahasa lain (yang bukan bahasa penutur) tetapi afiks yang sudah mampu keluar dari lingkungan dimana afiks itu berasal. Misalnya,afiks [wan-,-man,-wi].

 

 

 

1)      Kata

Ambilah sebuah kalimat yang berbunyi : tiap hari kita mesti salat. Dari pelajaran Bahasa Indonesia kita mengetahui bahwa kalimat ini terdiri dari 5 unsur atau segmen. Kita mengatakan bahwa kelima unsur ini adalah kata. Hal ini memaksa kita untuk memberi batasan,apakah kata itu.

2)      Batasan Kata

Ramalan (1967:7) mengatakan,’’kata ialah berbentuk bebas yang paling sedikit atau dengan  kata lain setiap suatu bentuk bebas merupakan suatu kata.’’ Bagi ramalan ciri uatama untuk mengatakan suatu bentuk adalah kata atau tidak,yakni sifat ‘’kebebasannya’’ Ch.f. Hockett (1985 :167), mengatakan bahwa ‘’a word is this any segment of a senten ces boundel by successive points at wich pausing is possible.’’bagi Hockett, kata dicirikan oleh pause.

Memang morfem bebas dapat kita sebut kata. Lalu bagaiman dengan morfem kompleks?kalu kita amat-amati,morfem kompleks pasti akan merupakan morfem bebas.kalu demikian,morfem kompleks dapat juga disebut kata.

3)      Bentuk Kata

Menurut bentuknya,kata dapat dibagi atas:

a)      Kata dasar

b)      Kata berimbuhan

c)      Kata berulang

d)     Kata majemuk

Bentuk seperti ini terutama kita temukan dalam bahasa-bahsa aglutinasi seperti bahasa Indonesia dan bahsa yang sempurna.untuk itulaah konsep bentuk kata yang dibagi seprti ini, terutama kita hubungkan dengan kenyataan-keyataan yang terdapat dalam bahsa Indonesia.

            Kata dasar yakni kata yang merupakan dasar pembentukan kata berimbahan. Misalnya,bentuk lari dalam kata berlari. Sebenarnya kalau kita berititik tolak dari konsep kata,maka istilah kata dasarkurang tepat. Kata berimbuhan ialah kata-kata yang mengalami perubahan berbentuk akibat melekatnya afiks (=imbuhan) baik di awal,di tengah,di akhir,baik dengan gabungan,maupun konfiks.cotohnya : digambar,mempersembahkan,tarikan,gemetar dan sebagainya.

            Yang terakhir kata majemuk atau komposium. Tentang kata majemuk (khusunya dalam bahasa Indonesia) terdapat dua penapat.pendapat yang dimaksud,yakni :

a)      Ada yang mengatakan (misalnya St. Takdir Alisjabhana) bahwa kata majemuk ada dalam bahasa Indonesia.

b)      Ada yang berpendapat (misalnya,Anton M.muljono) bahwa kat majemuk dalam bahasa Indonesia tak ada.

 

c)      Kelas Kata

            untuk menentukan ada tidaknya suatu kelas kata pada suatu bahasa diperlukan kriteria penentu. Di negri Belanda berkembang pendapat bahwa untuk menentukan ada tidaknya kelas kata,dipergunakan kriteria valensi (Inggris : valence). Demikianlah van de toorn (1975 :134) membagi kriteria valensi atas:

  • Valensi morfologi
  • Valensi sintaksis

Ramalan (1976 : 118) mempergunakan keriteria

  1. Makna
  2. Morfologis
  3. Sintaksis
  4. Gabungan a,b,c.
  5. tranposisi

            Sehubungan dengan kata masih ada beberapa hal yang perlu dikemukakan. Persoalan ini berhubungan dengan makna. Marilah kita lihat.

            Harmoni

Kata harmoni (ingris :homonymy berasal dari kata Yunani kuno,onoma =’nama’ dan hormos’sama’). Jadi,arti harfiah homonimi adalah namasama,tetapi maknanya berbeda.

            Contohnya : kata barang sebagaimana dalam kalimat : banyak barang diturunkan di pelabuhan dan kata barang sebagai partikel misalnya,dalam kalimat beri aku barang seratus rupiah.

            Homofoni

Kata hmofoni berasal dari bahsa  yunanani kuno : homo = sama phone = bunyi. Jadi, homotoni yakni kata yang bunyinya sama,tetapi maknanya bebeda misalnya,right’kanan dengan kata write ‘menulis’ dalam bahsainggris.

            Polisemi

Polisemi ialah kata yang mempunyai makna lebih dari satu.misalnya,kata pokok yang boleh bermakna :

a.modal

b. pangkal

c.batang

            antonimi

kata antonimi brasal dari bahasa Yunani:onoma =nama dan anti =melawan. Antonimi adalah kata-kata yang berlawanan maknanya

misalnya :

            tinggi  x  rendah

            luas    x   sempit

            pandai x  bodoh

            sinonimi

kata sinonimi berasl dari bahasa Yunani :oloma =nam dan syn =dengan. Sinonimi adalah kata-kata yang sama maknanya.misalnya

            sudah   =  telah

            makan  =  bersantap

2.2  Pengertian Tentang Morfofonologi

            Di depan telah dikemukakan tataran linguistik. Sebenarnya  soal morfofonologi tiadak harus merupakan suatu sub bab tersendiri. Morfofonologi boleh saja masuk ke bidang fonologi,tetapi bolehjuga masuk kebidang morfologi.kelak akan terlihat pada kita mengapa persoalan ini disendirikan.

             Untuk tiba dipengertian tentang morfofonologi, sebaiknya kita kemukakan lebih dahulu beberapa contoh kalimat dalam bahasa Gorontalo. Diambil contoh bahasa gorontalo karena bahasa ini merupakan bahasa-ibupenulis.perhatikan

Waatia moonaqo ode paatali mota motali patode dude ‘saya (akan)

            Pergi kepasar (akan) membeli tebu untuk dude’

Perhatikan bentuk moonaqo ‘(akan) pergi’ yang terdiri dari bentuk [mo-] +[onaqo].perhatikan pula bentuk patode dude yang berasal dari bentuk patodu ‘tebu’=le’si + dude’Dude’.

Kita melihat bahwa terjadi perubahan fonem kalau merfem-morfem itu saling melekat yangmenghasilkan kata dan terjadi pula perubahan fonem karena kata yang satu diikuti oleh kata yang lain,yang menghasilkan kelompok kata.perubahan seperti inilah disebut morfologi.

            Batasan morfofonologi ( = mrphophonemics ) ditegaskan oleh bloomefied dalam karangannya yang berjudul : monomini morphonemics’’ (1939) dimana dikatakannya : morfofonologi atau internal sandhi adalah : as the varitation of morfologie elements as they enter into different combination’’. Dengan bertitik tolak dari batasan ini dapat dikatakan bahwa morfofonologi adalah studi tentang peristiwa perubahan fonem akibat pertemuan morfem dengan morfem yang menghasilkan kata dankata dengan kata yang menghasilkan frase. Perubahan ini termasuk pergantian perubahan atau penghilang fonem. (lihat ,David E.Hunter dan Phillip Whilten; 1976: 276).

  1. a.      Perwujudan Morfologi

Bertitiktolak dari penjelasan diatas,maka morfofonologi dapat dibagi atas: 

1)      Morfofonologi pada tingkat kata

2)      Morfofonologi pada tingkat frase

Yang dimaksud dengan morfofonologi pada tingkat kata yakni perubahan fonem akibat pertemuan morfem dengan yang menghasilkan kata. Misalnya [me-]  +  [tari] –menari dimana kita melihat fonem awal /t/ pada kata tari,luluh dan [me] menjadi [men],sedangkan yang dimaksud dengan morfofonologi pada tingkat frase ialah perubahan fonem akibat sebuah kata yang diikuti kata lain yang menghasilkan frase. Contohnya dalam baha Gorontalo.

                        Putito ‘telur’ + mohutodu ‘busuk’-

            Putitaa mohutodu ‘telur busuk’ dimana kita melihat bahwa fonem /o/ pada kataputito berubah menjadi /aa/. Perubahan fonem seperti ini bergantung pada vokal akhir kata yang di depan.

  1. b.      Sintaksis

Pengertian sintaksis, kata sintaksis berasal dari kata Yunani ( sun = ‘dengan’ + tattein ‘menepatkan’. Jadi, kata sintaksis secara etimologis berarti menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi kelompok kata atau kalimat. Kata sintaksis dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Belanda ,syntakxis (inggris :syintax).

Ramalan (1981:1) mengatakan : ‘’sintaksis ialah bagian atau cabang dari ilmu baha yang membicarakan seluk beluk wacana,kalimat,klausa,dan frase. . .’’

            Berdasarkan batasan ini, di bawah ini akan dibicarakan berturut-turut : kalimat,klausa dan frase . wacana tidak dibicarakan disini karena kalu diperhatikan,wacana merupakan rangkaian dari kalimat-kalimat.

 

 

  1. c.       Pendekatan

Tata bahasa tradisional mendasarkan pendekatan menganai sintaksis dari segi makna. Tata bahasa tradisional tidak memperhatikan tata tingkat (hierarki) dalam bahasa.

            Demikian Ramalan 91981 :XIV) melihat perwujudan kalimat dengan melihat formalitas bahahasa yang didasarkannya pada intonasi dan kata-kata tertentu. Kalu ingin membicarakan sintaksis     sebaiknya kita mempergunakan pendekatan struktrual,formalitas baha dan juga fungsi. Mengapa? Mari kita liaht kalimat ini: anjing memukul saya.

Kalimat ini tidak secara struktrual maupun formalitas,memenuhi syarat. Tetapi kalau dilihat dari segifungsinya? Ternyata tidak mungkin anjing memukul manusia (= saya).

Pendekatan yang dilakukan oleh sintaksis yaitu:

            -struktrual

            -formalitas bahasa

            -fungsional

            d. kalimat

pertama-tama tentu kita bertanya apakah kalimat itu. Untuk menjawab pertanyaan itu,marilah kita lihat satuan-satuan ini.

            + sekarang kita harus melompat

            -melompat?

            + ya lompat

–          Hendak kemana?

+ ke rumah

–          Rumah ?

+ ya,kita kerumah paman.

Semua satuan ini pasti kita sebut kalimat. Padahal ada yang hanya satu kata,ada yang diakhiri dengan titik,tanda seru,tanda tanya. Kalau demikian apakah kalimat itu?

            Ramalan (1981 :6) mengatakan : kalimat ialah satuan garamatik yang dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir turun atau naik’’. Dalam definisi ini ramalan melihat dari ciri formalnya,yakni jeda panjang yang disertai nada akhir turun naik.

            St . takdir Alisjahbana (1978 : 58) mengatakan : ‘’ kalimat ialah suatuan kumpulan yang terkecil yang menagandung pikiran lengkap.’’ Menilik definisinya,kita melihatbahwa pendekatannya dari segi makna. Perhatikan kelompok kata : ‘’ yang mengandung pikiran lengkap apakah satuan Rumah? Dalam contoh diatas mengandung pkiran lengkap? Kita mudah memahami satuan ruumah.karena ada satuan-satuan sebelumnya. Seandainya satuan rumah berdiri sendiri sulit kita definisikan,karena itu definisi St. Takdir Alisjahbana sulit dieprtahankan.

            Kita telaah lagi definisi yang lain. L . Bloomfield dalam karangannya yang berjudul : ‘’A set of postulates for the Science of langguage ( dalam Langguage; 2, 1926 : 153 -164) yang dikutip oleh parera (1978 :10) mengatakan : ‘’a maximu x is an x which in not part of langer x’’. Dengan patokan ini kemudian Blomfiled mengatakan : ‘’a maximum from in any utterance, is not patr of a largerconstruction’’. Dengan kata lain sepaerti dikatakan oleh Parera (1978 : 10) :’’sebuah bentuk ketatabahasaan yang maksimal yang tidak merupakan bagian dari sebuah konstruksi ketatabahasaan yang lebih besar dan lebih luas adalah kalimat’’ hal seperti ini jelas pada contoh di atas.perhatikan:

            Sekarang kita harus melompat

            Melompat?

Bentuk melompat bukan merupakan bagian konstruksi yang lebih besar.bentuk melompat juga termasuk pula sebuah konstruksi yang maksimal, jadi bentuk konstruksi?, adalah kalimat berdasarkan definisi si Bloomfied.

            Dari definisi-definisi yang telah dikemukakan diatas (kecuaali definisi yang dikemukakan oleh St. Takdir Alisjahbana) ternyata bahwa faktor formalitas bahasa yang dikemukakan oleh Ramlan,telah diperhatikan. Ini tidak mengherankan,karena pengaruh Bloomfied dengan aliran struktrualnya,kuat sekali.

            Satuan anjing memukul saya ,secara struktrual benar,ciriformalnya ada tetapi,tidak berfungsi dalam ujaran. Oleh karena itu,kalimat hendaknyakita batasi menjadi : ‘’satuan gramatik yang didahului dan diakhiri oleh kesenyapan akhir dan berfungsi dalam ujaran’’.

  1. d.      Klausa

Ada beberapa definisi yang dikemukakan tentang klausa. Badudu (1976 : 10) mengatakan bahwa klausa adlah ‘’ sebuah kaliamat yang merupakan bagian daripada kalimat yang lebih besar’’.

            Kalau klausa itu kita lepaskan dari kalimat,maka bagian yang kita ppisahkan masih nampak sebagai kalimat. Ramalan (1981 : 62) mengatakan : ‘’klausa adlah satuan gramatik yang terdiri dari P(peredikat),baik disertai oleh S(subjek),O(objek),Pel(aku),dan Ket(erangan) ataupun tidak’’. Dengan ringkasan klausa ialah (S) P (O) (PEL) (KET). Berdasarkan definisi Ramalan, klausa berintikan P dan juga merupakan bagian kalimat. Klausa dapat menjadi kalimat yang utuh.

            Selanjutnya Parera (1978 :28) mengatakan : ‘’sebuah kalimat yang memmenuhi salah satu pola dasar kalimat inti dengan dua atu lebih unsur pusat’’disebut klausa.

Kalau definisi ini kita bandingkan dengan definnisi yang dikemukakan oleh Ramlan,terdapat titik-titik perbedaannya. Perbedaannya yakni : kalau definisi yang dikemukakan Ramalan  jabatanperedikat sebagai unsur kalimat sangat menentukann,sedangkan menurut Parera,kalimat yang dianggap klausa haruslah memenuhi salah satu dasar pola klaimat inti.dengan demikian ,satuan melompat pada kalimat yang kita ambil sebagai contoh bukanlah klausa menurut Parera,sedangkan menurut menurut Ramalan,satuan itu sudah dapat disebut klausa.

            Dari definisi-definisi ini,manakah di antaranya yang diambil sebagai pegangan.untuk itu kita hanya membuat rambu-rambu saja.

1)      Klausa mestilah terdiri dari sebuah kalimat atu bagian dari kalimat.

2)      Bagian dari kalimat itu dapat menjadi calon kalimat yang uth.

3)      Inti klausa adalah P (predikat)

 

  1. e.      Frase

Mengenai frase, ada beberapa definisi yangdikemukakan. M. Blance Lewis (1963 :16) mengatakan :’’phrase are sequences oftwoor more word below the rule of clauses and among these words there obatain interior relationships’’. Robet E.Longacere(1973 :76) mengatakan :a  phrase is a class of syntagmemes of a hierarchil order rakingabove such sytagmemes as the word and /or stem and blow such syntagmemes as the clause and sentence.’’

            Dari kedua definisi ini disimpulkan bahwa frase. Terdiri dari dua kata atu lebih,lebih kecil dari klausa dan antara kata-kata tersebut terdapat hubungan.

Definisi yang dikemukakan oleh Ramalan ini mudah dipahami dan jelas. Tetapi perlu diangkat bahwa yang mengisi S,P,O,Pel,Ket,.itu boleh jadi satu kata,boleh jadi pula dua kata atau lebih. Penjelasan ini pun hendaknya jangan dikacaukan dengan kata majemuk. Sebab ,kata majemuk mempunyai ciri:

  • Salah satu atu semua unsurnya berupa pokok kata
  • Unsur-unsurnya tidak mungkin dipisahkan atau tidak mungkin di ubah strukturnya.

Demikianlah bentuk-bentuk seperti rumah sakit,kolam renang,tuan rumah, tidak termasuk frase, tetapi digolongkan sebagai kata majemuk untuk lebih menjelaskan perbedaan antara frase dan kata majemuk baiklah dikemukakan pendapat Verhaar.

            Verhaar (1981 : 97-100) membedakan kata majemuk dan frase berdasarkan tiga hal;ketiga hal itu ialh :

  1. Kata majemuk tak dapat ditukar urutannya ;misalnya,bumiputra,matahari,tak dapat diubah menjadi putra-bumi,hari-mat
  2. Kata majemuk harus diulang seluruh komponennya misalnya,mata hari-mata hari
  3. Frase selalu terdiri atas kata-kata betul,jadi morfem –morfem bebas sedangkan dalam kata majemuk salah satu konstituen dapat berupa mprfem terkait,bukannya sebagai afiks atau klitika.

Jadi,kita mempergunakan kriteria unsur suprasegmental untuk menentukan batas frase. Unsur supragmental yang dipergunakan disini adalah jeda (= juncture). Dengan demikian kalimat :sekarang kita harus lompat terdiri dari dua kata dan satu frse yakni :

 

 

 

a)      Sekarang

b)      Kita,

c)      Harus lompat

Dengan berakhirnya pembahasan mengani frase berakhir pulah pembicaraan tataran sintaksis. Seperti telah dikatakan di depan ,apa yang di uraikan hanya merupakan prinsip-prinsip pokok saja. Misalnya kita tidak menjelaskan tipe-tipe kalimat,kelas kata yang menjadi unsur sebuah kalimat,dan sebagainya. Juga tidak dijelaskan jenis-jenis frase. Pembahasan secara terinci mengenai hal-hal itu,dibicarakanpada buku oarang lain.

C.Semantik

Semantik (inggris,semantics)berarti teori makn atau teori arti yakni cabang sistemantik,bahasa yang menyelidiki makna tau arti.

j.W.M.verhaary 1981 : 9) bandingkan dengan F.R Palmer;1976 :1 Geoffrey Leech ;1976 ;8).

            Telah dijelaskan bahwa apa yang kita ujaran sebenarnya terdiri dari dertan-deretan bunyi yang kadang-kadang diucapkan cepat,lambat,tinggi bahkan kadang –kadang mempergunakan kalimat yang panjang-panjang. Apa yang kita dengar sebenarnya terdiri dari dua lapis makna,dan kalau kita meminjam istilah dari F.de Saussure tedapat istilah signifikant (= bunyi-bunyi) dan signife (=makna). Kalau kita lihat bahasa tulis,demikian juga adanya. Apa yang kita lihat berupa deretan kata merupakan lapisbentuknya,sedangkan apa yang diamanatkan,apa yang di pesankan apa yang ditunjukkan,bahwa apa yang tersirat dalam setiap satuan gramatik itu,semuanya merupakan lapis makna.

            Jadi,kita mengetahui nama umum untuk jagung. Tetapi sekarang kalu kitatambah unsur berupa kata di depannya menjadi lima liter jagung, ternyata bahw aderetan kata itu tidak sama lagi dengan jagung  juga,kalau kita tambah umurnya di belakang misalnya menjadi :

            Jagung muda (jangan kacaukan dengan jaksa agung)

            Jagung muda dari Suwawa

             Jagung muda dari Suwawa di kebun ayah si ice

Teranglah pada kita bahwa kalau unsurnya (=kata) ditambah,akan lebih khususlah apa yang ditunjukkannya. Kita melihat bahwa maknanya menyempit.

            Kalau ada orang berkata saya membeli jagung, maka dengan mudah kita mengerti apa yang dimaksudnya. Disini kita berhadapan denhgan makna sebenarnya. Tetapi kalauseorang berkata umurnya hanya seumur jagung, kita menjadi ragu-ragu,apa yang dimaksudkannya. Lama kelamaan kita mengetahui bahwa yang dimaksudkannya ialah umurnya singkat,tidak lama hidup. Disini kita berhadapandengan makna tersirat.

            Geoffrey Leech (1,1976 :24 :42) menyebut tujuh tipe makna ,yakni.

  1. Conceptuele betekenis (= makna konsetual)
  2. Connotatieve betekenis (= makna kono tatif)
  3. Stilistiche betekenis (= makna stilistika)
  4. Affective betekenis (= makna afektif)
  5. Greflecteerde betekenis(= makna refelksi)
  6. Colocative betekenis(= makna kolokatif)
  7. Themafische betekenis (= makna tematis)

Makana konseptual,sering disebut makna denotatif atau makna kognitif,yang dimaksud dengan makna konseptual yakni makna’’;apa adanya yang dipunyai oleh setiap kata. Misalnya ,kalau seseorang mengatakan bunga,maka yang dimaksudkannya yakni bunga seperti yang kita lihat di taman bunga.

            Makna efektifnya yakni makna yang menimbulkan rasa bagi pendengar atau seorang menghardik kita meskipun dengan kata –kata bisa kita tentu merasakan sesuatu yang agak lain kalu kata-kata itu di ucapkan dengan nada biasa. Bandingkan misalnya:

Duduk (dengan suara pelan)

Duduk (dengan suara keras)

            Yang terakhir adalah makna tematis. Menurt Leech (1976 : 37) makna tematis berhubungan dengan : ‘’datgene wat gecommuniceerd word door de manicr waar op een spreker of schrijvrezin bodschap organiseert in termen van volgorde,fouce,en narduk.’’ Pada makna tematis kita berhadapan dengan persoalan yang dipentingkan oleh pembicara ,kita dapat memilih alternatif-alternatif konstruksi-konstruksi gramatikal sesuai dengan apa yang dipentingkan.

Misalnya:

Seorang laki-laki menuggu mobil di halte

Di halte menunggu mobil seorang laki-laki

Menungu mobil di halte seorang laki-laki

            Ketiga kalimat itu mempunyai makna yang sama. Perbedaannya akni pada pusat perhatian pembicara.

Sering kita bingung menafsirkan pa yang terkandung pada sebuah kalimat yang berbunyi anak dokter ali sakit. Kalimat ini dapat kita tafsirkan maknanya:

–          Ada seorang yang memberitahukan kepada seorang anak bahwa dokter Ali sakit

–          Informasi bahw anak dokter Ali sakit

–          Informasikepada anak dokter bahwa Ali sakit

–          Informasi bahwa anak,dokter dan Ali sakit

jadi,kaliamt anak dokter Ali sakit dianggap sebagai kalimat yang ambigu,kalimat yang meragukan meknanya. Empson yang dikutip oleh Stephen Ullman (1972 : 156) membedakan bentuk ambiguistas itu yang bersifat:

(a)    Fonetis

(b)   Gramatikal

(c)    Leksitikal

Apa yang baru kita lihat pada contoh kalimat tadi dianggap sebagai ambiguistas pada bentuk gramatikal.

            Untuk menganalisis makna suatu kata,kita dapat membuat analisis makna terhadap kata tersebut. Kita dapat membuat analisi berdasarkan komponen-komponen yang kita lihat atau kita ketahui (bacalah; E.A.Nida :1975). Berdasarkan analisis komponenmakna,seperti yang dijelaskan oleh Ninda,kita dapat menganalisis suatau kata berdasarkan .

–          Fungsi dari kata yang dianalisi

–          Bahan yang membentuk kata yang dianalisis

–          Kedaan kata yang dianalisi

–          Komponen-komponen yang ada kata itu

Contohnya bila kita menganalisi kata kursi. Terhadap kata ini terdapat komponen-komponen sebagai berikut:

–          Tempat duduk

–          Terbuat dari kayu

–          Betangan dan berkaki

–          Mempunyai sandaran

Jadi,kursi adalah alat yang terbuat dari kayu,yang mempunyai sandaran,berkaki,bertangan serta berfungsi sebagai tempat duduk

            Dan sampai di sini uarain mengenai terperinci semantik sebagi pengatar umum. Anda dipersilahkan untuk membaca uraian terperinci dan lebih luas dalam nuku khusu yang membicarakan semantik.

           

 

           

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

            Afiks dapat diartikan sebagai bahasa yang berasal dari bahasa penutur yang didapkan dari peneliti,yang didapat dari nara sumber langsung yang belummengenal kota atau masih asli penduduk dari daerah asal mereka untuk mengetahui keaslian bahasa yang digunakan dari daerah tersebut,karena disetiap daerah memiliki tingkatan bahasa masing-masing.

            Morfofonologi dapat diartikan sebagai ilmu bahasa yang masuk kedalam tataran ilmu bahasa linguistik,karena morfofonologi ini terjadi perubahan-perubahan fonem yang dapat menghasilkan katadan terjadi pulaperubahan fonem karena kata yang satu diikuti oleh kata yang lain,yang menghasilkan kelompok kata,dan perubahan seperti ini disebut morfofonologi.

            Semantik dapat diartikan sebagai ilmu bahasa yang menyelidiki makna dan arti bahasa,semantik ini juga mempelajari simbol,konsep,dan kita juga dapat melihat makna bahasa yang telah dianalisis oleh para ahli. Dalam bidang ilmu bahasa ini yang dianggapbaru untuk memecahkan masalah pada penelitian yang dilakukan pada bidangnya masing-masing.

Saran

            Afiks,Morfofonologi,dan Semantik dalam pendidikan terutama dalam ilmu bahasa sudah cukup berjalan dengn baik kareda seiring bekembangnya teknologi maka kemungkin bahasa daerah yang digunakan akan semakin hilang,makanya sering dilakukan penelitian agar bahasa daerah yang digunakan selama ini tidak akan hilang. Untuk itubagi semua pembaca yang kurang setuju dengan makalah ini ,kami selaku penyusun meminta agar meberikan saran yang terbaik guna memperbaiki makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

Pateda,Mansoer.1994.Linguistik.Angkasa Bandung: Bandung

http://iitsuryanii.blogspot.com/2012/06/linguistik-umum.html

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s